Maklon Kosmetik Indonesia

Diskusi riset kompetitor kosmetik dengan sampel produk, kemasan, dan catatan perbandingan.

Cara Riset Kompetitor Kosmetik Tanpa Meniru Produknya

Riset kompetitor kosmetik sering disalahartikan sebagai mencari produk yang sedang laris, lalu membuat versi yang mirip dengan nama, kemasan, klaim, dan harga berbeda. Cara seperti itu terlihat cepat, tetapi berisiko membuat brand baru kehilangan arah sejak awal.

Riset yang lebih berguna bukan mencari produk untuk disalin, melainkan membaca sinyal pasar. Anda perlu melihat konsumen sedang butuh apa, keluhan apa yang belum dijawab kompetitor, klaim apa yang aman digunakan, channel mana yang paling cocok, dan ruang pembeda apa yang masih realistis diproduksi.

Untuk calon pemilik brand kosmetik, ini penting karena keputusan produk tidak berhenti di ide. Produk juga harus masuk akal dari sisi formulasi, legalitas BPOM, sertifikasi halal, kemasan, MOQ, dan strategi penjualan.

Riset Kompetitor Kosmetik Bukan Mencari Produk untuk Ditiru

Kompetitor bisa menjadi sumber belajar, tetapi bukan sumber contekan. Dari kompetitor, Anda bisa membaca pola kategori, rentang harga, gaya komunikasi, format kemasan, cara bundling, review konsumen, dan klaim yang sering muncul di pasar.

Yang tidak ideal adalah meniru produk secara mentah. Misalnya membuat serum dengan warna kemasan hampir sama, nama varian mirip, klaim serupa, ukuran sama, lalu menargetkan audiens yang sama. Di awal, cara ini mungkin terlihat aman karena produk pembanding sudah terbukti laku. Namun, produk baru mudah tenggelam karena tidak punya alasan kuat untuk dipilih.

Riset kompetitor yang sehat harus menjawab pertanyaan yang lebih dalam: mengapa produk itu laku, bagian mana yang benar-benar dicari konsumen, dan celah apa yang belum dijawab dengan baik. Produk bisa laku karena banyak faktor, seperti kategori yang sedang naik, diskon agresif, live shopping, affiliate, review KOL, kemasan menarik, atau formula yang memang cocok untuk kebutuhan konsumen.

Jika penyebabnya tidak dibaca dengan benar, brand baru bisa salah mengambil keputusan. Anda mungkin meniru kemasan, padahal kekuatan kompetitor ada di distribusi. Anda mungkin meniru klaim, padahal yang membuat konsumen membeli adalah harga bundling. Anda mungkin meniru hero ingredient, padahal review konsumen justru memuji tekstur atau aroma.

Mulai dari Peta Pasar, Bukan dari Satu Produk Viral

Pasar kosmetik Indonesia sudah sangat padat. Data yang dikutip Meiyume memperkirakan pasar beauty and personal care Indonesia bernilai sekitar USD 3,2 miliar dan dapat mencapai USD 5,5 miliar pada 2028. Skincare disebut sebagai kategori terbesar, sementara suncare diproyeksikan tumbuh paling cepat.

Di sisi pelaku usaha, Kemenperin mencatat pada 2024 ada 1.292 industri kosmetik di Indonesia, dan 89% di antaranya merupakan IKM. Tantangan yang disebut tidak hanya soal ide produk, tetapi juga kapasitas produksi, teknologi, legalitas BPOM, kemitraan maklon, branding, distribusi, dan akses pembiayaan.

Artinya, Anda tidak sedang masuk ke pasar kosong. Banyak brand sudah bermain di serum, moisturizer, sunscreen, body lotion, parfum, haircare, lip product, dan kategori lain. Karena itu, riset tidak cukup hanya melihat produk yang sedang ramai.

Mulailah dengan peta pasar yang lebih luas. Lihat kategori apa yang sudah padat, format produk apa yang paling sering muncul, segmen harga mana yang ramai, dan siapa pemain yang terlihat kuat. Setelah itu, baru masuk ke detail produk.

Cara ini membantu Anda menghindari jebakan produk viral. Produk yang terlihat ramai hari ini belum tentu cocok untuk kapasitas produksi, target audiens, channel penjualan, atau posisi brand Anda. Untuk brand baru, keputusan yang lebih aman biasanya bukan mengejar semua tren, melainkan memilih kategori yang masih punya masalah konsumen yang jelas.

Gunakan BPOM untuk Membaca Pasar secara Lebih Objektif

Marketplace dan media sosial penting, tetapi keduanya tidak cukup. Untuk kosmetik di Indonesia, database BPOM bisa menjadi titik awal yang lebih objektif untuk memeriksa produk yang sudah terdaftar.

Pada laman Cek Produk BPOM yang diakses 25 Mei 2026, tercatat 349.469 produk kosmetik terdaftar yang masih berlaku. Sistem ini memungkinkan pencarian berdasarkan nomor registrasi, nama produk, merek, kemasan, dan pendaftar.

Bagi calon brand owner, data ini membantu melihat pola yang tidak selalu terlihat di marketplace. Anda dapat mengecek merek apa saja yang sudah memiliki produk di kategori tertentu, nama produk seperti apa yang sering dipakai, bentuk kemasan yang banyak muncul, serta siapa pendaftar atau produsen yang terlibat.

Namun, status terdaftar BPOM perlu dibaca dengan tepat. Produk yang muncul di database BPOM berarti produk tersebut memiliki notifikasi atau izin edar yang relevan, bukan berarti semua klaim pemasaran kompetitor otomatis terbukti benar. BPOM membantu memverifikasi keberadaan dan legalitas produk, tetapi tidak bisa dijadikan pembenaran untuk meniru klaim kompetitor.

Untuk riset awal, Anda bisa membuat daftar 10–20 produk pembanding dari kategori yang sama. Catat nama produk, bentuk sediaan, ukuran, klaim utama, target konsumen, harga, channel penjualan, dan ringkasan review. Dari sana, Anda mulai membaca pola pasar tanpa perlu menyalin produknya.

Pisahkan Klaim Kosmetik dari Bahasa Marketing yang Berisiko

Salah satu bagian paling sensitif dalam riset kompetitor kosmetik adalah klaim. Banyak calon brand tergoda memakai klaim yang terlihat kuat karena kompetitor juga menggunakannya. Padahal klaim kosmetik harus berhati-hati karena berkaitan dengan regulasi, bukti pendukung, dan ekspektasi konsumen.

Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2022 mengatur Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika. Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024 juga mengatur penandaan, promosi, dan iklan kosmetik, termasuk pengawasan serta sanksi administratif.

Prinsipnya, riset kompetitor sebaiknya menghasilkan peta klaim, bukan contekan copywriting. Anda perlu mencatat klaim apa yang sering digunakan, mana yang terdengar terlalu medis, mana yang membutuhkan bukti kuat, dan mana yang bisa ditulis lebih wajar sebagai manfaat kosmetik.

Misalnya, ada perbedaan antara komunikasi yang menjelaskan kulit terasa lebih lembap dan klaim yang memberi kesan menyembuhkan kondisi kulit tertentu. Ada juga perbedaan antara menyebut produk membantu merawat tampilan kulit dan menjanjikan hasil absolut dalam waktu tertentu.

Dokumen ASEAN Cosmetic Directive juga menekankan bahwa label, penjualan, dan iklan kosmetik tidak boleh menggunakan teks, nama, gambar, atau tanda yang memberi kesan produk memiliki karakteristik yang sebenarnya tidak dimiliki. Ini relevan karena banyak masalah produk kosmetik muncul bukan hanya dari formula, tetapi juga dari cara produk dikomunikasikan.

Dalam praktiknya, jangan bertanya, “Klaim kompetitor apa yang bisa kita pakai juga?” Pertanyaan yang lebih aman adalah, “Manfaat apa yang bisa kita buktikan, dukung, dan komunikasikan secara wajar?”

Riset Review untuk Menemukan Celah, Bukan Menyalin Formula

Review konsumen adalah salah satu sumber riset paling berguna karena menunjukkan pengalaman nyata setelah produk dipakai. Namun, review tetap perlu dibaca sebagai pola, bukan sebagai kebenaran tunggal.

Review bintang lima biasanya menunjukkan alasan konsumen puas: tekstur nyaman, aroma cocok, hasil sesuai ekspektasi, kemasan praktis, atau harga terasa sepadan. Review negatif sering lebih penting karena menunjukkan celah yang belum dibereskan kompetitor.

Misalnya, sunscreen bisa dikeluhkan karena perih di mata, terasa berat, meninggalkan white cast, atau tidak nyaman dipakai ulang. Body lotion bisa dikeluhkan karena lengket, aroma terlalu kuat, atau kemasan pump mudah rusak. Serum bisa dikeluhkan karena pilling saat dipakai sebelum makeup, tekstur terlalu cair, atau hasil tidak sesuai klaim.

Dari keluhan seperti ini, Anda bisa membuat keputusan produk yang lebih orisinal. Bukan “buat serum seperti brand A,” tetapi “buat serum dengan tekstur yang nyaman dipakai pagi hari dan tidak mudah pilling.” Bukan “buat body lotion seperti brand B,” tetapi “buat body lotion yang lebih cepat menyerap untuk konsumen yang tidak suka rasa lengket.”

Review juga membantu membedakan masalah produk dan masalah komunikasi. Kadang formula produk tidak buruk, tetapi instruksi pemakaian tidak jelas. Kadang ukuran produk terlalu kecil untuk harga yang ditawarkan. Kadang konsumen kecewa karena klaim terlalu tinggi.

Celah seperti ini lebih sehat untuk dijadikan dasar brief produk. Saat dibawa ke pabrik maklon atau tim formulasi, Anda tidak datang hanya dengan contoh produk kompetitor, tetapi membawa masalah konsumen yang ingin dijawab.

Baca Marketplace sesuai Karakter Platform

Data marketplace perlu dibaca dengan konteks platform. Produk yang unggul di TikTok Shop belum tentu unggul karena formulanya paling kuat. Produk bisa naik karena live shopping, demonstrasi visual, affiliate, diskon, bundling, atau konten yang mudah menarik perhatian.

Compas mencatat kategori perawatan dan kecantikan menyumbang 69% dari total transaksi TikTok Shop sepanjang 2024 hingga awal 2025. Pada Tokopedia, kategori yang sama menyumbang 26,5% dari total penjualan. Compas juga menyoroti perbedaan karakter: TikTok Shop kuat di live shopping dan demonstrasi visual, sedangkan Tokopedia lebih bergantung pada pencarian organik, official store, dan diskon berkala.

Implikasinya cukup besar untuk brand baru. Jika Anda hanya melihat produk terlaris di TikTok Shop, Anda mungkin menilai produk itu unggul karena formulanya. Padahal bisa saja kekuatannya ada pada host live, potongan harga, atau cara demonstrasi produk.

Sebaliknya, produk yang kuat di Tokopedia mungkin lebih bergantung pada reputasi toko, pencarian nama merek, variasi produk, review, dan rasa aman dari official store. Karena itu, riset kompetitor sebaiknya memisahkan sinyal produk dari sinyal channel.

Untuk membaca marketplace, catat beberapa hal: produk apa yang sering muncul di halaman pencarian, harga normal dan harga diskon, isi per kemasan, bentuk bundling, jumlah review, pola komplain, dan cara toko menjawab pertanyaan pembeli.

Jangan hanya menyalin mekanik promonya. Kalau kompetitor berhasil karena bundling, belum tentu brand baru harus langsung membuat bundling besar. Bisa jadi yang lebih cocok adalah trial size, paket perawatan sederhana, atau satu hero product dengan komunikasi yang lebih jelas.

Jangan Salah Membaca Tren Bahan dan Konsep Produk

Tren bahan sering membuat brand baru terlihat cepat mengikuti pasar, tetapi juga mudah membuat produk terasa generik. Jika semua brand memakai istilah yang sama, pembeda produk justru makin kabur.

Meiyume mencatat beberapa micro-trends di Indonesia, seperti hybrid beauty, local natural or organic ingredients, dan skinimalism. Tren ini bisa berguna sebagai sinyal, tetapi tidak boleh dipakai sebagai tempelan.

Hybrid beauty, misalnya, bisa berarti produk makeup dengan benefit skincare. Namun, klaimnya tetap harus masuk akal dan sesuai dukungan produk. Local natural ingredients bisa menjadi pembeda jika ada alasan yang jelas, misalnya bahan dipilih karena relevan dengan positioning, sensorial experience, cerita brand, atau kebutuhan konsumen tertentu.

Skinimalism juga sering disalahpahami. Konsep ini bukan sekadar membuat desain kemasan minimalis atau mengurangi jumlah produk di katalog. Untuk konsumen, yang lebih terasa adalah rutinitas yang tidak rumit, manfaat yang tidak tumpang tindih, dan komunikasi yang tidak membuat mereka merasa harus membeli terlalu banyak tahap.

Saat membaca kompetitor, perhatikan apakah tren bahan benar-benar menjadi alasan beli atau hanya menjadi kata kunci di kemasan. Lihat review: apakah konsumen menyebut bahannya, teksturnya, hasil pemakaian, aromanya, atau harga promonya?

Jika konsumen jarang membahas bahan, tetapi banyak membahas kenyamanan pemakaian, pembeda Anda mungkin bukan hero ingredient. Bisa jadi pembeda yang lebih kuat adalah tekstur, aroma, ukuran, kemasan, instruksi pemakaian, atau posisi harga.

Bandingkan Harga Berdasarkan Value, Bukan Angka Jual Saja

Harga kompetitor tidak bisa dibaca hanya dari nominal. Produk Rp99.000 belum tentu lebih murah daripada produk Rp129.000 jika isi, konsentrasi pemakaian, kemasan, reputasi, dan persepsi manfaatnya berbeda.

NielsenIQ mencatat konsumen Indonesia tetap berbelanja meski harga naik, tetapi menjadi lebih eksperimental dan selektif terhadap brand. Dalam kategori FMCG, 22,8% konsumen membeli lebih dari tiga produk beauty.

Artinya, konsumen tidak selalu mencari yang paling murah. Mereka bisa mencoba beberapa produk, berpindah brand, dan membandingkan value. Untuk brand baru, ini peluang sekaligus risiko. Peluangnya, konsumen masih terbuka mencoba produk baru. Risikonya, mereka juga cepat meninggalkan produk yang tidak memberi alasan beli yang jelas.

Saat riset harga, bandingkan harga per ml atau gram, ukuran produk, jenis kemasan, frekuensi diskon, bundle, ongkir, dan persepsi konsumen di review. Produk dengan harga rendah bisa tetap dianggap mahal jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Produk dengan harga lebih tinggi bisa diterima jika value-nya jelas.

Dalam konteks maklon, harga juga perlu dikaitkan dengan realitas produksi. Kemasan tertentu, bahan tertentu, aroma tertentu, ukuran tertentu, dan MOQ tertentu akan memengaruhi struktur biaya. Karena itu, jangan membuat target harga hanya berdasarkan kompetitor tanpa memahami konsekuensi produksinya.

Riset kompetitor yang matang membantu Anda menyusun batas keputusan: harga ideal, harga minimum yang masih masuk akal, kualitas kemasan yang perlu dijaga, dan fitur produk yang tidak boleh dikorbankan.

Periksa Nama Brand, Nama Varian, dan Risiko Kemiripan

Meniru kompetitor tidak selalu terlihat dari formula. Kadang masalah justru muncul dari nama brand, nama varian, warna kemasan, gaya visual, atau cara menyusun klaim.

Untuk kosmetik, pengecekan merek dagang penting karena kategori ini masuk dalam Kelas 3 pada sistem klasifikasi merek DJKI. Kelas 3 mencakup kosmetik, produk kosmetik untuk perawatan kulit, sediaan kosmetik, serta produk kosmetik untuk wajah dan tubuh.

Ini berarti riset kompetitor perlu mencakup pengecekan nama, bukan hanya produk. Nama yang terdengar mirip, ejaan yang terlalu dekat, atau konsep visual yang menumpang asosiasi brand lain bisa menjadi masalah, terutama jika berada di kategori yang sama.

Brand baru sebaiknya tidak memilih nama hanya karena terdengar “mirip pemain besar tapi lebih lokal” atau “lebih mudah diingat karena mengingatkan pada brand tertentu.” Dalam jangka pendek, cara ini mungkin terlihat membantu awareness. Dalam jangka panjang, brand sulit membangun identitas sendiri.

Lebih aman jika riset kompetitor dipakai untuk memahami pola penamaan kategori, lalu mencari arah yang berbeda. Misalnya, apakah pasar terlalu penuh dengan nama yang berhubungan dengan glow, white, acne, calm, atau barrier. Dari situ, Anda bisa melihat kata yang terlalu ramai dipakai dan menghindarinya.

Masukkan Halal Sejak Awal Riset Produk

Sertifikasi halal bukan sekadar logo tambahan di akhir proses. Untuk kosmetik, aspek ini perlu masuk sejak awal, terutama jika target konsumen Anda sensitif terhadap halal atau jika produk akan dipasarkan luas di Indonesia.

BPJPH menegaskan produk kosmetik wajib bersertifikat halal setelah 17 Oktober 2026. Dalam data yang sama, sudah ada 81.343 produk kosmetik dalam negeri dan 7.558 produk kosmetik luar negeri yang bersertifikat halal.

Bagi brand baru, riset kompetitor bisa melihat mana pemain yang sudah menjadikan halal sebagai trust signal dan bagaimana mereka mengkomunikasikannya. Namun, jangan berhenti di kemasan. Halal berkaitan dengan bahan, supplier, proses produksi, dokumentasi, dan fasilitas produksi.

Jika Anda bekerja dengan pabrik maklon, bahas kebutuhan halal sejak awal brief. Ini membantu memastikan pilihan bahan, formula, dan proses produksi tidak bertabrakan dengan target legalitas dan positioning brand.

Halal juga tidak harus selalu menjadi klaim utama. Untuk beberapa brand, halal menjadi faktor dasar untuk membangun kepercayaan. Untuk brand lain, halal bisa menjadi bagian dari kombinasi positioning bersama BPOM, kualitas produksi, sensorial experience, dan komunikasi produk yang jelas.

Ubah Hasil Riset Menjadi Brief Produk yang Lebih Tajam

Hasil riset kompetitor baru berguna jika bisa diterjemahkan menjadi brief produk. Tanpa itu, riset hanya menjadi kumpulan screenshot, link produk, dan catatan harga.

Brief produk yang baik tidak hanya mengatakan “ingin membuat moisturizer seperti brand X.” Brief yang lebih tajam menjelaskan target konsumen, masalah yang ingin dijawab, tekstur yang diinginkan, klaim yang perlu hati-hati, preferensi aroma, ukuran kemasan, kisaran harga, channel utama, dan hal yang ingin dihindari.

Misalnya, dari riset review Anda menemukan banyak konsumen mengeluh body lotion terasa lengket. Maka, brief bisa mengarah ke body lotion dengan sensasi lebih ringan, cepat menyerap, dan nyaman dipakai di iklim panas. Jika banyak review sunscreen menyebut perih di mata, brief bisa menekankan kenyamanan pemakaian dan batasan klaim yang realistis.

Dari sisi produksi, brief seperti ini lebih berguna untuk dibahas dengan tim formulasi atau pabrik maklon. Tim produksi tidak hanya mendapat contoh produk kompetitor, tetapi memahami alasan di balik arah produk yang Anda inginkan.

Ini juga membantu mencegah keputusan yang terlalu emosional. Banyak calon brand owner memilih produk karena menyukai kemasan atau tren tertentu. Padahal, produk yang bagus untuk brand lain belum tentu cocok untuk target pasar, modal produksi, MOQ, strategi distribusi, atau positioning brand Anda.

Kesalahan Umum Saat Riset Kompetitor Kosmetik

Kesalahan pertama adalah hanya melihat produk yang viral. Produk viral bisa memberi inspirasi, tetapi tidak selalu memberi arah bisnis yang stabil. Viralitas bisa berasal dari promo, konten, affiliate, atau momentum tren.

Kesalahan kedua adalah meniru klaim. Klaim kosmetik perlu dukungan dan batasan. Jika Anda meniru klaim kompetitor tanpa memahami regulasi, risiko komunikasinya bisa lebih besar daripada manfaatnya.

Kesalahan ketiga adalah mengabaikan review negatif. Padahal, review negatif sering menunjukkan peluang diferensiasi yang paling jelas. Komplain tentang tekstur, aroma, kemasan, ukuran, atau instruksi pemakaian bisa menjadi bahan pengembangan produk yang lebih konkret.

Kesalahan keempat adalah membaca harga tanpa menghitung value. Harga perlu dibandingkan dengan isi, kemasan, persepsi manfaat, diskon, bundle, dan channel penjualan. Produk murah belum tentu kompetitif jika tidak memberi alasan beli yang kuat.

Kesalahan kelima adalah terlambat memikirkan legalitas. BPOM, halal, klaim, dan merek dagang sebaiknya tidak dipikirkan setelah desain dan formula selesai. Dalam kosmetik, legalitas dan komunikasi produk perlu berjalan bersama sejak tahap perencanaan.

Kesimpulan

Riset kompetitor kosmetik yang baik tidak membuat brand baru menjadi tiruan brand lain. Justru sebaliknya, riset membantu Anda melihat ruang yang belum dijawab dengan baik oleh pasar.

Gunakan kompetitor untuk membaca pola kategori, review konsumen, harga, channel penjualan, klaim, legalitas, dan celah positioning. Setelah itu, ubah temuan tersebut menjadi brief produk yang jelas: masalah apa yang ingin dijawab, konsumen mana yang dituju, klaim apa yang aman, dan format produk apa yang realistis diproduksi.

Dengan cara ini, riset kompetitor menjadi dasar keputusan bisnis, bukan jalan pintas untuk menyalin produk yang sudah ada.

Referensi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top