Maklon Kosmetik Indonesia

high angle shot of a busy wooden workspace belonging to a perfume brand owner.

Menentukan aroma parfum yang akan laku di pasaran merupakan tantangan besar bagi pemilik bisnis baru. Persaingan Brand lokal seperti HMNS, Saff & Co, hingga Mykonos saat ini sangat ketat. Data dari Compas bahkan mencatat peningkatan penjualan kategori parfum dan wewangian hingga Rp1,4 triliun pada periode 2024, yang menunjukkan betapa masifnya peluang sekaligus persaingan di industri ini.

Jika kamu memulai produksi tanpa data yang valid atau hanya mengandalkan asumsi pribadi, risiko bisnis yang kamu hadapi akan sangat tinggi. Penumpukan stok mati di gudang karena aroma tidak diminati, atau kesalahan penetapan harga yang membuat produk sulit terjual, adalah skenario yang sering terjadi pada pemula. Kamu bisa memanfaatkan data terbuka dari Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop untuk memahami perilaku dan preferensi konsumen secara akurat sebelum mengeluarkan modal produksi.

Berikut adalah langkah teknis riset kompetitor untuk membantu perencanaan produk parfum kamu agar lebih matang dan terukur.

7 Langkah riset kompetitor parfum

1. Buat Daftar Kompetitor Utama

Langkah pertama adalah menentukan kompetitor spesifik agar riset menjadi fokus dan efisien. Jangan melihat semua produk di marketplace secara acak karena akan membingungkan.

Cari 10 hingga 20 Brand teratas dari laporan industri terpercaya. Sebagai acuan terkini, kamu bisa melihat laporan GoodStats mengenai 10 Brand parfum terlaris di Shopee Indonesia Q3 2025 atau kumpulan data industri dari Databoks. Setelah mendapatkan datanya, kelompokkan mereka ke dalam kategori berikut untuk analisis yang lebih tajam.

a. Segmen Budget

Brand dalam kelompok ini biasanya menjual produk dengan harga di bawah Rp100.000. Fokus utama mereka adalah mengejar volume penjualan yang tinggi dengan margin tipis. Produk mereka seringkali berupa inspired perfume atau duplikasi aroma dari parfum desainer internasional. Strategi mereka biasanya mengandalkan kemasan sederhana dan promosi harga coret yang agresif.

b. Segmen Mid-High

Kelompok ini berisi Brand orisinal yang menjual konsep, cerita, dan kemasan premium dengan kisaran harga Rp150.000 hingga Rp300.000 ke atas. Mereka menawarkan identitas produk yang kuat dan tidak hanya menjual cairan wewangian. Konsumen di segmen ini membeli pengalaman dan kebanggaan menggunakan Brand lokal, bukan sekadar mencari wangi murah.

c. Target Gender

Identifikasi apakah kompetitor tersebut memiliki kekuatan penjualan di pasar pria, wanita, atau unisex. Mengetahui hal ini membantu kamu melihat celah pasar, misalnya jika pasar wanita sudah terlalu jenuh, mungkin ada peluang lebih besar di pasar pria atau unisex.

2. Gunakan Teknik Keyword Cluster

Konsumen sering menggunakan kolom pencarian bukan untuk mencari Brand, melainkan untuk menemukan solusi masalah atau keinginan spesifik mereka. Ketik kata kunci dasar di kolom pencarian Shopee atau Tokopedia secara perlahan, lalu catat saran otomatis (autocomplete) yang muncul. Kelompokkan saran tersebut menjadi beberapa kategori niat pembeli (search intent).

a. Pencarian Berdasarkan Fungsi

Kata kunci ini menunjukkan kebutuhan fungsional dan situasi penggunaan konsumen. Contoh: “parfum pria tahan lama”, “parfum untuk kondangan”, “parfum sholat”, atau “parfum pemikat lawan jenis”. Ini memberi tahu kamu bahwa konsumen membutuhkan produk yang bisa mendukung aktivitas spesifik mereka.

b. Pencarian Berdasarkan Aroma

Kata kunci ini menunjukkan preferensi wangi yang spesifik dan sedang tren. Contoh: “parfum vanilla”, “wangi bayi (powdery)”, “aroma teh”, atau “woody fresh”. Jika kamu melihat tren pencarian “aroma teh” meningkat, itu adalah sinyal untuk mempertimbangkan profil aroma tersebut dalam pengembangan produkmu.

c. Pencarian Berdasarkan Ukuran

Kata kunci ini menunjukkan preferensi format produk dan daya beli. Contoh: “travel size”, “parfum 30ml”, atau “discovery set”. Jika kata kunci “parfum vanilla tahan lama” sering muncul di posisi atas, ini menunjukkan permintaan pasar yang tinggi dan mendesak untuk spesifikasi tersebut.

3. Analisis Spesifikasi Produk Terlaris

Masuklah ke toko kompetitor dalam daftar kamu, lalu urutkan produk berdasarkan filter “Terlaris”. Jangan hanya melihat fotonya, tapi pilih 5 produk teratas dan catat spesifikasi teknisnya secara mendalam.

a. Konsentrasi Parfum

Perhatikan jenis konsentrasi produk terlaris mereka, apakah Eau de Toilette (EDT), Eau de Parfum (EDP), atau Extrait. Data ini menentukan standar ketahanan aroma yang diharapkan konsumen. Jika kompetitor rata-rata menjual Extrait de Parfum, menjual EDT dengan harga sama akan membuat produkmu terlihat kurang bernilai.

b. Hero Notes

Catat komponen aroma yang paling ditonjolkan dalam deskripsi dan visual. Contoh: Top notes Citrus untuk kesegaran awal atau Base notes Amber untuk kesan hangat di akhir. Memahami pola ini membantu kamu merancang formulasi aroma yang familiar namun tetap memiliki ciri khas.

c. Klaim Utama

Perhatikan janji performa yang mereka tawarkan dalam copywriting. Contoh: “Tahan 12 jam di kulit”, “Tidak meninggalkan noda di baju”, atau “Jarak sebar 2 meter”. Ini menjadi standar performa minimal yang harus kamu penuhi atau lampaui agar produkmu bisa bersaing secara kompetitif.

4. Hitung Harga per Mililiter

Harga jual akhir seringkali menipu persepsi. Bandingkan harga secara objektif dengan menghitung biaya per mililiter untuk mendapatkan perbandingan apple-to-apple. Botol 30ml seharga Rp90.000 mungkin terlihat lebih murah daripada botol 50ml seharga Rp120.000, namun perhitungan bisnisnya berbeda. Gunakan rumus Harga dibagi Jumlah ml.

a. Contoh Perhitungan

  • Kompetitor A: Rp90.000 / 30ml = Rp3.000 per ml.
  • Kompetitor B: Rp120.000 / 50ml = Rp2.400 per ml.

b. Analisis HPP

Perhitungan di atas memberikan gambaran struktur harga pasar yang sebenarnya. Kamu bisa menggunakan data ini untuk menyusun Harga Pokok Penjualan (HPP) yang kompetitif saat produksi, sekaligus menentukan margin keuntungan yang sehat untuk distributor atau reseller kamu nanti.

c. Strategi Bundling

Perhatikan apakah mereka menjual paket gabungan untuk meningkatkan nilai transaksi. Contoh: “Beli 1 Gratis 1 Vial”, “Paket Siang & Malam”, atau “Bundle Parfum & Body Lotion”. Strategi ini sangat efektif untuk meningkatkan nilai transaksi rata-rata (Average Order Value) dan menghabiskan stok lebih cepat.

5. Analisis Ulasan Bintang Rendah

Ulasan positif seringkali bias, namun ulasan negatif biasanya jujur. Baca ulasan bintang 1 dan 2 untuk melihat kekurangan fatal produk kompetitor. Cari pola keluhan yang sering muncul dari pembeli untuk menemukan celah inovasi.

a. Masalah Teknis Kemasan

Catat keluhan fisik seperti “botol bocor saat pengiriman”, “spray macet/keras”, atau “tutup botol longgar”. Ini sering terjadi akibat penggunaan botol murah atau proses crimping (penguncian botol) yang tidak presisi. Konsumen sangat membenci produk yang datang dalam kondisi rusak.

b. Masalah Kualitas Cairan

Catat keluhan terkait performa seperti “bau alkohol menyengat di awal”, “wangi hilang dalam 30 menit”, atau “menyebabkan pusing/mual”. Kekurangan ini adalah peluang emas bagi kamu untuk menawarkan produk dengan kualitas botol yang kokoh dan formulasi wangi yang lebih halus serta tahan lama.

Ubah keluhan jadi keunggulan

6. Analisis Visual dan Legalitas

Dalam belanja online, konsumen tidak bisa mencium aroma produk. Mereka mengandalkan foto dan video untuk menilai kualitas dan membayangkan wanginya. Perhatikan cara kompetitor menampilkan produk mereka.

a. Gaya Foto dan Video

Lihat nuansa foto yang digunakan untuk membangun persepsi aroma. Foto dengan pencahayaan gelap dan moody biasanya mewakili aroma woody, spicy, atau maskulin. Sedangkan foto cerah dengan elemen bunga atau buah mewakili aroma floral, fruity, atau feminin. Kesesuaian visual dengan karakter aroma sangat penting untuk mencegah ekspektasi yang salah.

b. Edukasi Aroma

Periksa apakah mereka menyertakan infografis piramida aroma (olfactory pyramid) yang menjelaskan urutan wangi dari Top, Middle, hingga Base notes. Informasi visual ini sangat membantu konsumen memahami karakter wangi tanpa menciumnya langsung, sehingga mengurangi keraguan saat membeli.

c. Cek Nomor BPOM

Pastikan kompetitor mencantumkan nomor BPOM yang jelas pada deskripsi atau kemasan. Hal ini penting untuk validasi keamanan produk dan kepatuhan hukum. Kamu harus memastikan produkmu nanti juga memiliki izin edar resmi agar bisnis berjalan aman dari risiko penertiban pasar dan membangun kepercayaan jangka panjang.

7. Buat Rencana Stok Awal

Jangan biarkan data riset hanya menjadi catatan. Gunakan temuan di atas untuk menyusun strategi produksi dan stok awal (SKU Plan) yang efisien.

a. Pemilihan Aroma

Tentukan 1 hingga 2 profil aroma yang paling banyak dicari berdasarkan riset kata kunci dan gap di pasar. Contoh: Rilis 1 varian Gourmand (manis) untuk pasar wanita dan 1 varian Fresh (segar) untuk pasar pria/unisex sebagai langkah awal.

b. Penentuan Ukuran Botol

Pilih ukuran botol berdasarkan data produk terlaris yang kamu temukan. Ukuran 30ml atau 50ml biasanya memiliki harga jual yang psikologisnya mudah diterima pasar untuk tahap perkenalan produk baru, dibandingkan langsung menjual ukuran 100ml.

c. Perbaikan Kualitas

Pastikan spesifikasi teknis produk kamu menjawab keluhan yang ditemukan pada poin 5. Gunakan botol dengan kualitas pump yang baik (anti-macet) dan formulasi yang minim bau alkohol menyengat. Ini akan menjadi nilai jual utama (Unique Selling Point) produk kamu dibanding kompetitor.

Riset marketplace ini memberikan dasar pengambilan keputusan yang logis dan berbasis data untuk bisnis kamu. Kamu bisa memahami posisi kompetitor, struktur harga yang tepat, dan standar kualitas yang dibutuhkan pasar saat ini.

Langkah selanjutnya adalah merealisasikan data ini menjadi produk fisik yang siap bersaing. Jika kamu membutuhkan mitra produksi yang bisa menerjemahkan data risetmu menjadi produk nyata, layanan jasa maklon parfum kami siap membantu prosesnya dari hulu ke hilir—mulai dari formulasi aroma eksklusif yang sesuai tren, penyediaan botol kualitas premium yang anti-bocor, hingga pengurusan notifikasi BPOM sampai tuntas.

Referensi & Sumber Data

Untuk memperdalam riset industri, kamu bisa mengakses laporan lengkap dari sumber berikut:

  1. GoodStats (2025): 10 Brand Parfum Terlaris di Shopee Indonesia Q3 2025.
  2. Compas (2024): Tren di E-commerce 2024: Parfum & Wewangian Makin Laris, Penjualan Meningkat Rp1,4 Triliun.
  3. Databoks: Kumpulan Data Statistik & Tren Parfum Terbaru.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top