Facial wash dan facial foam sama-sama digunakan untuk membersihkan wajah dari minyak, kotoran, dan sisa produk skincare. Namun, keduanya sering dianggap memiliki fungsi berbeda karena facial foam identik dengan busa melimpah, sedangkan facial wash dianggap lebih lembut.
Sebenarnya, perbedaan facial wash dan facial foam terutama terletak pada istilah produk dan karakteristik busanya, bukan pada kemampuan membersihkan wajah.
Facial wash adalah istilah umum untuk produk pencuci wajah, sementara facial foam lebih menekankan karakteristik berbusa. Keduanya bahkan dapat memiliki karakteristik yang sama, tergantung formulanya.
Lalu, apakah facial foam lebih cocok untuk kulit berminyak dan facial wash untuk kulit kering? Simak perbedaannya agar Anda bisa memilih pembersih yang sesuai dengan kebutuhan kulit.
Apa Perbedaan Facial Wash dan Facial Foam?
Secara umum, facial wash adalah produk pembersih wajah yang digunakan bersama air untuk mengangkat minyak, kotoran, dan sisa produk dari permukaan kulit.
Facial wash tersedia dalam berbagai tekstur, seperti gel, krim, dan cairan. Sebagian menghasilkan sedikit busa, sementara produk lainnya dapat menghasilkan cukup banyak busa ketika digunakan.
Sementara itu, facial foam adalah pembersih wajah yang memiliki karakteristik berbusa. Produk ini bisa berupa gel atau krim yang berubah menjadi busa setelah dicampur air, maupun cairan yang langsung keluar sebagai busa dari kemasannya.
Artinya, facial foam juga termasuk jenis facial wash. Kedua istilah tersebut tidak selalu merujuk pada dua kategori produk yang benar-benar berbeda.
Berikut perbandingan karakteristik keduanya.
| Aspek | Facial Wash | Facial Foam |
|---|---|---|
| Pengertian | Istilah umum untuk pembersih wajah | Pembersih wajah dengan karakteristik berbusa |
| Tekstur | Gel, krim, atau cairan | Gel, krim, cairan, atau busa siap pakai |
| Jumlah busa | Bisa sedikit hingga banyak | Umumnya menghasilkan busa lebih banyak |
| Fungsi utama | Membersihkan minyak, kotoran, dan residu | Membersihkan minyak, kotoran, dan residu |
| Jenis kulit | Bergantung pada formula produk | Bergantung pada formula produk |
| Efek setelah digunakan | Bisa terasa lembap, nyaman, atau kesat | Bisa terasa lembap, nyaman, atau kesat |
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa nama produk saja belum cukup untuk menentukan kecocokannya dengan kulit.
Contohnya, CeraVe Hydrating Cream-to-Foam Cleanser memiliki tekstur awal berupa krim yang berubah menjadi busa lembut saat digunakan. Meskipun menghasilkan busa, produk ini diformulasikan untuk kulit normal hingga kering, termasuk kulit sensitif.
Jadi, anggapan bahwa semua facial foam hanya cocok untuk kulit berminyak tidak sepenuhnya tepat.
Apakah Facial Foam Lebih Efektif Membersihkan Wajah?
Banyak orang menganggap semakin banyak busa yang dihasilkan, semakin bersih pula wajah setelah mencuci muka. Padahal, jumlah busa bukan satu-satunya penentu kemampuan suatu pembersih.
Facial wash maupun facial foam umumnya mengandung bahan pembersih yang disebut surfaktan (surfactant).
Surfaktan membantu melepaskan minyak dan kotoran dari permukaan kulit sehingga lebih mudah terangkat ketika wajah dibilas dengan air.
Bahan ini juga dapat membantu pembentukan busa. Namun, kemampuan menghasilkan busa dan kemampuan membersihkan kotoran merupakan dua karakteristik yang berbeda.
Karena itu, pembersih yang menghasilkan sedikit busa belum tentu kurang efektif dibandingkan produk dengan busa melimpah.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Molecules pada 2022 menjelaskan bahwa karakteristik surfaktan, termasuk interaksinya dengan protein dan minyak alami kulit, turut menentukan kemampuan membersihkan serta potensi iritasi suatu produk.
Dalam praktiknya, facial wash berbentuk gel dengan sedikit busa tetap dapat membersihkan wajah secara efektif. Sebaliknya, facial foam dengan busa melimpah belum tentu lebih baik jika membuat kulit terasa terlalu kering setelah digunakan.
Apakah Facial Foam Membuat Kulit Lebih Kering?
Facial foam sering dianggap lebih berisiko menyebabkan kulit kering karena menghasilkan banyak busa. Anggapan ini memang sesuai dengan karakteristik sebagian pembersih berbusa, tetapi tidak berlaku untuk semua produk.
Beberapa formula pembersih dirancang untuk mengangkat minyak lebih intensif. Pada kulit yang cenderung kering atau sensitif, penggunaan produk seperti ini dapat menimbulkan rasa tertarik, kering, atau tidak nyaman.
Namun, efek tersebut lebih dipengaruhi oleh kombinasi bahan pembersih, konsentrasi, pH, serta kandungan pendukung dalam formula daripada jumlah busanya saja.
Pembersih berbusa juga dapat mengandung bahan pelembap seperti glycerin, ceramide, atau hyaluronic acid untuk membantu menjaga kenyamanan kulit selama dan setelah mencuci wajah.
Pengaruh Surfaktan dan pH terhadap Kulit
Kulit memiliki lapisan pelindung alami yang membantu mempertahankan kelembapan dan melindunginya dari gangguan lingkungan.
Pembersih yang terlalu keras dapat mengganggu lapisan tersebut, termasuk minyak alami dan protein pada permukaan kulit.
Dalam formulasi pembersih, dikenal perbedaan antara sabun konvensional dan synthetic detergent atau syndet. Sabun konvensional umumnya lebih basa, sedangkan syndet dapat diformulasikan dengan pH yang lebih mendekati kondisi alami kulit.
Penelitian yang diterbitkan dalam Allergy and Asthma Proceedings pada 2024 mengukur pH 250 produk pembersih kulit dan menemukan rentang pH yang cukup luas, yaitu 3,59–10,83.
Seluruh 37 produk sabun yang diuji memiliki pH sangat basa. Sebaliknya, 84,9% dari 199 produk syndet cair yang diuji memiliki pH asam.
Penelitian tersebut tidak secara khusus membandingkan facial wash dengan facial foam. Hasilnya menunjukkan bahwa pH lebih berkaitan dengan formulasi daripada sekadar nama produk.
Pembersih dengan pH yang mendekati kondisi alami kulit dapat menjadi pertimbangan, terutama bagi pemilik kulit sensitif. Meski demikian, label low pH tidak otomatis menjamin bahwa seluruh formulanya cocok untuk setiap orang.
Facial Wash atau Facial Foam, Mana yang Cocok untuk Jenis Kulit Anda?
Memilih pembersih wajah sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kulit, bukan hanya banyaknya busa yang dihasilkan.
Berikut beberapa pertimbangan berdasarkan kebutuhan masing-masing jenis kulit.
Kulit Berminyak
Kulit berminyak ditandai dengan produksi sebum yang relatif tinggi, terutama pada area dahi, hidung, dan dagu. Kondisi ini dapat membuat wajah terlihat mengilap dan terasa berminyak beberapa waktu setelah dibersihkan.
Facial foam dapat menjadi pilihan karena banyak produk berbusa yang dirancang untuk membantu mengangkat minyak berlebih.
Namun, bukan berarti kulit berminyak harus menggunakan facial foam. Facial wash berbentuk gel dengan formula yang sesuai juga dapat membersihkan wajah dengan baik.
Perhatikan kondisi kulit setelah mencuci wajah. Jika kulit terasa sangat tertarik atau kering, produk yang digunakan mungkin terlalu keras untuk kebutuhan kulit Anda.
Tujuan menggunakan pembersih wajah bukan menghilangkan seluruh minyak alami, melainkan membersihkan minyak berlebih tanpa membuat kulit terasa tidak nyaman.
Kulit Kering dan Sensitif
Untuk kulit kering, pembersih dengan formula lembut umumnya lebih sesuai dibandingkan produk yang membuat wajah terasa sangat kesat.
Facial wash bertekstur krim atau gel lembut dapat menjadi pilihan. Produk yang mengandung bahan pelembap, seperti glycerin atau hyaluronic acid, juga dapat dipertimbangkan.
Namun, pemilik kulit kering tidak harus menghindari facial foam sepenuhnya.
Beberapa produk berbusa memang diformulasikan agar kulit tetap nyaman setelah dibersihkan. Contohnya adalah pembersih cream-to-foam yang menggabungkan tekstur krim dengan busa lembut.
Bagi pemilik kulit sensitif, perhatikan juga kandungan pewangi dan bahan lain yang sebelumnya pernah menyebabkan iritasi.
Jika kulit mudah mengalami kemerahan, perih, atau gatal, produk fragrance-free dengan formula sederhana dapat menjadi pilihan untuk dipertimbangkan.
Kulit Berjerawat
Pemilik kulit berjerawat sering memilih facial foam karena dianggap mampu membersihkan minyak secara lebih menyeluruh.
Padahal, busa yang banyak tidak membuat pembersih otomatis lebih efektif mengatasi jerawat.
Jerawat tidak hanya berkaitan dengan minyak berlebih, tetapi juga penyumbatan pori-pori, peradangan, serta faktor lainnya.
Beberapa produk pembersih untuk kulit berjerawat mengandung bahan aktif seperti salicylic acid atau benzoyl peroxide. Namun, penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kulit dan produk perawatan lain yang sedang digunakan.
Menggunakan terlalu banyak produk dengan bahan aktif yang berpotensi mengiritasi kulit dapat menyebabkan kekeringan atau iritasi.
Jika kulit sedang mengalami jerawat meradang atau Anda menggunakan obat jerawat yang membuat kulit lebih sensitif, pembersih lembut tanpa tambahan bahan aktif tertentu justru dapat lebih sesuai.
Baik facial wash maupun facial foam dapat digunakan untuk kulit berjerawat selama formulanya cocok dan tidak memperparah iritasi.
Cara Memilih Facial Wash dan Facial Foam yang Tepat
Selain mempertimbangkan jenis kulit, ada beberapa hal yang sebaiknya diperiksa sebelum membeli pembersih wajah.
Pertama, perhatikan fungsi dan klaim pada kemasan. Produk yang ditujukan untuk kulit berminyak belum tentu cocok untuk kulit kering. Begitu pula, pembersih yang diformulasikan untuk kulit sensitif belum tentu memberikan sensasi kesat yang diinginkan sebagian pengguna.
Kedua, periksa komposisi bahannya. Kandungan surfaktan, pelembap, pewangi, dan bahan aktif dapat memengaruhi karakteristik produk. Namun, daftar bahan saja tidak selalu cukup untuk menentukan tingkat kelembutannya karena konsentrasi dan kombinasi formula juga berpengaruh.
Ketiga, perhatikan kondisi kulit setelah pemakaian. Pembersih yang sesuai umumnya membuat wajah terasa bersih dan nyaman, tanpa menimbulkan rasa tertarik berlebihan, perih, atau kemerahan yang menetap.
Jangan menjadikan sensasi sangat kesat sebagai satu-satunya tanda wajah sudah bersih. Sensasi tersebut dapat muncul ketika pembersih mengangkat terlalu banyak minyak alami kulit.
Jika kulit mudah bereaksi terhadap produk baru, American Academy of Dermatology menyarankan pengujian pada area kecil kulit selama 7–10 hari sebelum digunakan lebih luas.
Untuk produk yang dibilas seperti facial wash, ikuti cara dan durasi kontak sesuai petunjuk pengujian. Jangan membiarkan produk menempel sepanjang hari.
Jika muncul reaksi iritasi, hentikan penggunaan produk. Keluhan yang berat atau menetap sebaiknya diperiksakan kepada dokter kulit.
Bolehkah Menggunakan Facial Wash dan Facial Foam Bersamaan?
Pada dasarnya, Anda tidak perlu menggunakan facial wash dan facial foam secara berurutan hanya karena keduanya memiliki nama berbeda.
Keduanya sama-sama digunakan untuk membersihkan wajah. Menggunakan dua produk tersebut sekaligus belum tentu memberikan hasil yang lebih baik.
American Academy of Dermatology menganjurkan penggunaan pembersih lembut, menghindari menggosok wajah terlalu keras, serta membatasi frekuensi mencuci wajah hingga dua kali sehari dan setelah banyak berkeringat.
Terlalu sering mencuci wajah atau menggunakan pembersih yang terlalu keras justru dapat membuat kulit kering dan teriritasi.
Bagaimana Jika Menggunakan Makeup atau Sunscreen?
Bagi pengguna makeup, terutama produk tahan air, kebutuhan membersihkan wajah bisa berbeda.
Dalam kondisi tersebut, Anda dapat mempertimbangkan double cleansing, yaitu membersihkan wajah menggunakan pembersih berbasis minyak atau micellar water, kemudian melanjutkannya dengan pembersih berbasis air.
Tahap pertama membantu mengangkat makeup dan sisa produk, sedangkan tahap berikutnya membersihkan kotoran yang masih tertinggal pada wajah.
Namun, double cleansing tidak wajib dilakukan setiap hari oleh semua orang.
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa satu kali pembersihan menyeluruh dengan produk yang lembut umumnya sudah cukup bagi banyak orang. Double cleansing lebih diperlukan ketika terdapat makeup tahan air atau sisa produk yang sulit dibersihkan menggunakan satu pembersih.
Jadi, Anda tidak perlu menggunakan facial wash dan facial foam sekaligus jika satu produk sudah mampu membersihkan wajah dengan baik.
Bagaimana Perbedaan Facial Wash dan Facial Foam bagi Pemilik Brand Skincare?
Bagi calon pemilik brand skincare, istilah facial wash dan facial foam juga berkaitan dengan pilihan formula dan pengalaman konsumen saat menggunakan produk.
Pembersih wajah dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari gel dengan sedikit busa, gel yang menghasilkan busa melimpah, krim pembersih, hingga cairan yang langsung keluar sebagai busa menggunakan kemasan khusus.
Setiap pilihan memiliki pertimbangan tersendiri, termasuk formula, tekstur, jenis kemasan, dan target pengguna.
Misalnya, brand yang menyasar konsumen berkulit kering dapat mempertimbangkan formula pembersih lembut dengan kandungan pelembap. Sementara itu, produk untuk kulit berminyak dapat dikembangkan dengan kemampuan membersihkan minyak berlebih tanpa membuat wajah terasa terlalu kesat.
Karena itu, saat mengembangkan produk melalui jasa maklon kosmetik, pemilihan formula sebaiknya tidak hanya didasarkan pada nama facial wash atau facial foam.
Jumlah busa, kemampuan membersihkan, kenyamanan setelah pemakaian, dan kecocokan dengan target konsumen perlu dipertimbangkan sejak tahap pengembangan produk.
Kesimpulan
Perbedaan facial wash dan facial foam terutama terletak pada penggunaan istilah dan karakteristik busanya. Facial wash adalah istilah umum untuk pembersih wajah, sedangkan facial foam lebih menonjolkan pembentukan busa saat digunakan.
Keduanya memiliki fungsi dasar yang sama, yaitu membantu membersihkan minyak, kotoran, dan sisa produk dari permukaan kulit.
Facial foam tidak selalu lebih keras untuk kulit, begitu pula facial wash tidak otomatis lebih lembut. Hasil pembersihan dan kenyamanan setelah pemakaian tetap bergantung pada keseluruhan formula.
Pilih pembersih wajah berdasarkan jenis kulit, komposisi, dan respons kulit setelah digunakan, bukan sekadar nama produk atau banyaknya busa yang dihasilkan.
Referensi
- American Academy of Dermatology – Face Washing 101
- American Academy of Dermatology – How to Test Skin Care Products
- Molecules (2022) – Skin Cleansing without or with Compromise: Soaps and Syndets
- Allergy and Asthma Proceedings (2024) – Not All Marketed Skin Cleansers’ pH Is Optimal for Atopic Dermatitis
- Cleveland Clinic – Double Cleansing Method Explained
- Cleveland Clinic – How Often Should You Wash Your Face?
- CeraVe – Hydrating Cream-to-Foam Cleanser



