Bahan Kimia berbahaya pada skincare bukan lagi rahasia umum dalam dunia kecantikan. Apalagi dalam rutinitas perawatan kulit sehari-hari, produk skincare kerap dianggap sebagai solusi ajaib untuk mengatasi berbagai masalah kecantikan. Namun, di balik klaim manfaatnya, tersembunyi realitas kompleks, dimana skincare tidak hanya mengandung bahan kimia aman seperti humectants, misalnya gliserin atau antioksidan, tetapi juga bahan kimia berbahaya yang dapat mengancam kesehatan jangka panjang.
Studi menunjukkan bahwa banyak konsumen tidak mampu mengidentifikasi kandungan berisiko dalam produk mereka. Misalnya, penelitian di Surabaya mengungkapkan bahwa 75,6% peserta awalnya tidak memahami bahaya bahan seperti merkuri atau hidrokuinon, bahkan setelah membeli produk tanpa izin edar BPOM. Lalu Apa saja bahan kimia tersebut, inilah beberapa bahannya.
5 Bahan Kimia Berbahaya pada Skincare

Bahan kimia berbahaya pada skincare yang tak banyak orang tahu dan bisa terkandung dalam skincare saat ini adalah sebagai berikut.
1. Parabens
Paraben merupakan kelompok bahan kimia sintetis yang umum digunakan sebagai pengawet dalam berbagai produk perawatan kulit, kosmetik, dan produk pribadi lainnya. Fungsi utamanya adalah untuk memperpanjang masa simpan produk dengan mencegah pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan ragi. Paraben dapat ditemukan dalam berbagai bentuk dengan nama yang berbeda, seperti methylparaben, ethylparaben, propylparaben, dan butylparaben, yang biasanya tercantum dalam daftar komposisi produk.
Lalu, mengapa paraben dianggap berisiko? Paraben memicu kekhawatiran karena kemampuannya meniru hormon estrogen yang ada dalam tubuh manusia. Saat digunakan pada kulit, paraben bisa terserap dan telah ditemukan dalam jaringan tubuh serta urin manusia. Kemiripan paraben dengan estrogen ini diduga dapat mengganggu sistem endokrin yang mengatur hormon dalam tubuh. Paparan jangka panjang terhadap paraben dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang berdampak pada berbagai fungsi tubuh.
Beberapa risiko kesehatan yang mungkin terkait dengan paraben antara lain:
- Gangguan pada keseimbangan hormon yang dapat memengaruhi fungsi reproduksi dan perkembangan.
- Penemuan jejak paraben pada tumor kanker payudara, meskipun kaitan langsung antara paraben dan kanker ini masih dalam tahap penelitian dan menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.
- Paraben juga dapat memicu iritasi kulit dan reaksi alergi, terutama pada orang dengan kulit sensitif.
Untuk mengurangi risiko, penting untuk memeriksa label bahan pada produk perawatan kulit dan kosmetik. Hindari produk yang mengandung bahan dengan nama yang mengandung paraben, seperti methylparaben atau propylparaben. Sebaiknya pilih produk yang berlabel bebas paraben atau menggunakan pengawet alternatif yang lebih aman.
2. Sulfates
Sulfat merupakan senyawa kimia yang umum digunakan sebagai surfaktan dan agen pembusa pada produk perawatan kulit dan pembersih tubuh. Dua jenis paling populer adalah Natrium Lauril Sulfat (SLS) dan Natrium Lauret Sulfat (SLES). SLS bertanggung jawab menciptakan efek busa berlimpah pada sabun, sampo, atau pasta gigi, namun sifatnya yang kuat berisiko mengikis minyak alami kulit dan rambut. Hal ini akan menyebabkan kekeringan hingga iritasi pada kulit sensitif. Sementara SLES, varian yang dimodifikasi melalui proses etoksilasi, cenderung lebih lembut meski tetap berpotensi menyebabkan dehidrasi kulit.
Kedua senyawa ini efektif membersihkan kotoran dan residu, tetapi sifat degreaser-nya yang agresif dapat mengganggu moisture barrier kulit. Bagi pemilik kulit kering, berjerawat, atau rentan iritasi (seperti eksim), produk bebas sulfat (sulfate-free) lebih disarankan. Alternatifnya antara lain:
- Surfaktan alami: Decyl Glucoside, Cocamidopropyl Betaine
- Pembersih berbasis minyak (oil cleanser)
- Produk berlabel gentle, non-foaming, atau low pH
3. Oxybenzone
Oxybenzone atau oksibenzon merupakan bahan kimia sintetis yang umum digunakan sebagai filter ultraviolet (UV) dalam produk tabir surya chemical sunscreen. Juga banyak ditemukan dalam produk kosmetik seperti foundation atau lip balm. Meskipun efektif menyerap sinar UVA/UVB sebesar 270–350 nm dan memberikan perlindungan terhadap radiasi matahari, bahan ini menyimpan sejumlah risiko kesehatan dan lingkungan yang signifikan. Secara kesehatan, oxybenzone dapat menembus lapisan kulit dan terdeteksi dalam jaringan tubuh, urin, serta aliran darah. Studi CDC Amerika Serikat menemukan 97% populasi AS memiliki senyawa ini dalam tubuhnya, diduga karena akumulasi paparan harian.
Risiko utamanya terletak pada kemampuannya meniru struktur hormon estrogen atau endocrine disruptor, yang dapat mengacaukan keseimbangan sistem endokrin. Hal ini akan memicu gangguan reproduksi, perkembangan janin khususnya pada ibu hamil, hingga peningkatan risiko kanker payudara berdasarkan temuan senyawa ini dalam sampel tumor. Selain itu, paparan oxybenzone pada kulit sensitif sering memicu reaksi fotoalergi seperti kemerahan, gatal, dermatitis, dan memperparah jerawat. Secara lingkungan, oxybenzone bersifat toksik bagi ekosistem laut, terutama terumbu karang—dengan menyebabkan pemutihan dan kerusakan genetik pada biota laut. Sehingga dilarang di kawasan konservasi seperti Hawaii dan Kepulauan Karibia.
4. Formaldehyde-releasing Preservatives
Bayangkan Anda memiliki toples jelly yang ingin dijaga kesegarannya agar tahan lama. Untuk itu, biasanya Anda akan menambahkan sesuatu yang mencegahnya cepat rusak. Dalam produk perawatan kulit, ada bahan-bahan tertentu seperti DMDM Hydantoin, diazolidinyl urea, dan Quaternium-15 yang berfungsi serupa. Ketiga zat ini bekerja sebagai pengawet dengan melepaskan formaldehida secara perlahan dari waktu ke waktu.
DMDM Hydantoin berperan sebagai pelindung yang menjaga produk tetap segar dan aman digunakan dalam jangka waktu lama. Namun, saat melakukan tugas ini, ia melepaskan formaldehida yang dapat memberi efek negatif pada kulit. Diazolidinyl urea juga berfungsi sebagai pengawet yang mencegah pertumbuhan bakteri dalam produk, tetapi sama seperti DMDM Hydantoin, ia juga melepaskan formaldehida yang tidak baik untuk kulit. Quaternium-15 bertindak sebagai penjaga produk dengan menghentikan bakteri merusak, tetapi sayangnya juga melepaskan formaldehida yang bisa membuat kulit menjadi iritasi atau bermasalah.
5. Phthalates
Phthalate adalah zat yang sering tersembunyi dalam beberapa produk perawatan kulit. Mereka biasanya ditambahkan untuk memberikan aroma dan sensasi yang menyenangkan pada produk tersebut. Namun, phthalate bisa masuk ke dalam tubuh kita dan menimbulkan masalah kesehatan.
Phthalate diketahui dapat mengganggu sistem hormon, yang berfungsi seperti pengatur lalu lintas dalam tubuh kita. Ketika hormon menjadi tidak seimbang, hal itu dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, terutama pada wanita hamil dan anak-anak yang lebih rentan.
Cara Mengetahui Bahan Kimia Berbahaya Pada Skincare
Untuk mengetahui apakah suatu produk skincare mengandung bahan kimia berbahaya, Anda perlu memeriksa label komposisi bahan dengan cermat dan waspada terhadap zat-zat yang telah terbukti berisiko bagi kesehatan. Beberapa bahan kimia berbahaya yang sering ditemukan dalam produk kosmetik dan skincare ilegal atau tanpa izin resmi meliputi Parabens, Sulfates, Oxybenzone, Formaldehyde-releasing Preservatives, Phthalates. Bahan-bahan ini dapat menyebabkan berbagai masalah, mulai dari iritasi kulit hingga gangguan kesehatan serius seperti kerusakan ginjal, gangguan hormon, alergi, dan risiko kanker. Oleh karena itu, penting memastikan produk yang dipakai sudah mendapatkan izin BPOM serta menghindari produk dengan kandungan bahan berbahaya tersebut.
Dalam konteks industri kosmetik di Indonesia, banyak perusahaan maklon kosmetik yang menawarkan produk dengan bahan alami yang aman untuk kulit. Maklon kosmetik Indonesia terus berkembang dengan fokus pada penggunaan bahan-bahan yang berasal dari alam, seperti ekstrak tumbuhan, minyak esensial, dan bahan organik lain yang telah teruji aman dan ramah terhadap kulit sensitif. Pendekatan ini membantu mengurangi risiko iritasi dan efek samping yang biasa muncul karena bahan kimia sintetis.
Selain itu, maklon kosmetik yang baik umumnya memastikan produknya memiliki sertifikasi halal dan izin edar resmi, sehingga konsumen dapat lebih percaya bahwa produk yang mereka gunakan aman dan berkualitas. Dengan pilihan bahan alami dan proses produksi terpercaya, maklon kosmetik di Indonesia mendukung tren skincare yang lebih sehat sekaligus mendorong kesadaran konsumen untuk lebih selektif dalam memilih produk yang mereka gunakan, menghindari bahan kimia berbahaya yang merugikan kulit dan kesehatan secara keseluruhan.



