Maklon Kosmetik Indonesia

30 Ide Judul Skripsi tentang Parfum untuk Penelitian Produk dan Konsumen

Mencari ide skripsi tentang parfum tidak harus berujung pada topik yang itu-itu saja, seperti harga, promosi, atau brand image. Parfum sendiri bisa menjadi objek penelitian dari banyak sisi, mulai dari formulasi, performa aroma, preferensi konsumen, kemasan, sampai respons konsumen setelah mencoba produknya.

Daftar berikut mengambil arah dari skripsi dan penelitian yang sudah ada, lalu mengembangkannya menjadi beberapa kemungkinan topik baru. Jadi, judul-judul ini sebaiknya tetap disesuaikan lagi dengan jurusan, fasilitas penelitian, biaya, responden yang bisa dijangkau, serta arahan dosen pembimbing.

Cara Memilih Ide Skripsi Parfum yang Realistis

Jangan memilih topik hanya karena judulnya terdengar kompleks. Lebih penting memastikan variabel yang ingin diteliti punya dasar dari penelitian sebelumnya, bisa diukur, dan realistis dikerjakan dengan sumber daya yang tersedia.

Kebutuhan tiap penelitian juga berbeda. Penelitian formulasi bisa membutuhkan beberapa formula pembanding dan fasilitas pengujian. Penelitian preferensi konsumen lebih banyak membutuhkan sampel yang konsisten, responden, serta prosedur scent test yang jelas.

Begitu juga saat memodifikasi penelitian terdahulu. Mengganti Brand A menjadi Brand B atau memindahkan lokasi penelitian dari kota lain ke Surabaya belum tentu cukup. Idealnya, perubahan tersebut memang menghasilkan pertanyaan penelitian yang berbeda atau relevan untuk diuji kembali.

1. Formulasi dan Karakteristik Produk Parfum

  • Pengaruh Konsentrasi Fixative terhadap Sillage, Projection, dan Longevity Eau de Parfum
  • Pengaruh Konsentrasi Fragrance Oil terhadap Karakteristik Fisik dan Ketahanan Aroma Eau de Parfum
  • Optimasi Rasio Fixative dan Solubilizer terhadap Kejernihan dan Ketahanan Aroma Eau de Parfum
  • Pengaruh Jenis Fixative terhadap Stabilitas dan Ketahanan Aroma Eau de Parfum
  • Pengaruh Suhu Penyimpanan terhadap Stabilitas Fisik dan Ketahanan Aroma Eau de Parfum
  • Pengaruh Waktu Maturasi terhadap Karakteristik dan Stabilitas Aroma Eau de Parfum
  • Optimasi Komposisi Fragrance, Fixative, dan Pelarut terhadap Mutu Fisik Eau de Parfum

Kelompok ini cocok jika Anda ingin meneliti hubungan antara formula dan karakter produk yang dihasilkan. Penelitiannya bisa membandingkan beberapa konsentrasi, jenis bahan, waktu proses, atau kondisi penyimpanan dengan komponen lain dibuat tetap.

Pendekatan seperti ini sudah digunakan dalam penelitian parfum. Skripsi Universitas Syiah Kuala tahun 2026, misalnya, membuat empat formula Eau de Parfum dengan konsentrasi kristal patchouli alcohol 0%, 0,2%, 0,4%, dan 0,6%, kemudian mengevaluasi mutu fisik, sillage, projection, serta longevity. Penelitian lain juga menggunakan analisis kromatografi untuk mengevaluasi waktu maturasi parfum.

Topik dalam kelompok ini umumnya membutuhkan akses ke pembuatan sampel dan fasilitas pengujian. Karena itu, jumlah formula dan parameter yang diuji sebaiknya disesuaikan dengan waktu, biaya, serta fasilitas yang memang tersedia.

2. Aroma dan Preferensi Konsumen

  • Analisis Preferensi Konsumen terhadap Beberapa Keluarga Aroma Parfum melalui Blind Scent Test
  • Pengaruh Keluarga Aroma Parfum terhadap Tingkat Kesukaan dan Persepsi Karakter Aroma Konsumen
  • Analisis Kesesuaian Keluarga Aroma Parfum dengan Situasi Penggunaan Menurut Konsumen
  • Analisis Segmentasi Konsumen Berdasarkan Preferensi terhadap Profil Aroma Parfum
  • Hubungan Persepsi Emosional Aroma dengan Tingkat Kesukaan Konsumen terhadap Parfum
  • Pengaruh Informasi Gender Parfum terhadap Preferensi Aroma Konsumen melalui Blind dan Labeled Test
  • Perubahan Preferensi Konsumen terhadap Aroma Parfum dari First Impression hingga Dry-Down

Untuk kelompok ini, Anda tidak harus mengubah formulasi parfum. Beberapa sampel dengan profil aroma berbeda sudah bisa digunakan untuk melihat bagaimana konsumen menilai, mengelompokkan, dan memilih aroma.

Salah satu penelitian tentang preferensi fragrance menggunakan delapan parfum dari empat keluarga aroma, yaitu floral, fruity, green, dan citrus, dalam scent test. Penelitiannya tidak berhenti pada aroma mana yang paling disukai, tetapi juga melihat hubungannya dengan image, warna, waktu, tempat, dan situasi penggunaan.

Metode seperti blind scent test juga menarik karena nama produk, brand, dan kemasan bisa disembunyikan saat responden menilai aroma. Dari sini, penelitian dapat dikembangkan lebih jauh untuk melihat segmentasi konsumen, karakter yang diasosiasikan dengan aroma tertentu, atau kecocokan aroma dengan situasi penggunaan.

3. Pengembangan Produk dan Kemasan Parfum

  • Pengembangan Produk Parfum Travel Size dan Discovery Set Berdasarkan Kebutuhan Konsumen dengan Pendekatan Design Thinking
  • Pengembangan Desain Kemasan Parfum Refill Berdasarkan Kebutuhan Konsumen Menggunakan Quality Function Deployment
  • Pengembangan Desain Kemasan Parfum yang Sesuai dengan Karakter Aroma Menggunakan Kansei Engineering
  • Pengaruh Kesesuaian Warna Kemasan dengan Karakter Aroma terhadap Persepsi Konsumen terhadap Produk Parfum
  • Pengembangan Kemasan Botol Parfum Berdasarkan Kebutuhan Fungsional Konsumen terhadap Sprayer, Tutup, dan Ketahanan Kemasan
  • Analisis Preferensi Konsumen terhadap Kombinasi Ukuran Botol, Sistem Refill, dan Format Kemasan Parfum

Topik pada kelompok ini cocok jika hasil penelitian ingin diarahkan sampai ke konsep atau prototype produk. Yang diteliti tidak harus formula parfum, tetapi bisa juga format produk, ukuran, botol, sistem refill, sprayer, atau desain kemasannya.

Skripsi IPB tahun 2025, misalnya, menggunakan pendekatan design thinking setelah menemukan konsumen sebuah brand parfum memiliki pilihan ukuran yang terbatas dan kesulitan mencoba aroma sebelum membeli. Penelitian tersebut kemudian menghasilkan dua konsep produk, yaitu travel size 10 ml dengan botol twister dan fitur pump refill, serta discovery set berisi empat varian parfum ukuran 5 ml.

Kemasan juga bisa diteliti dari sisi fungsi. Penelitian di Politeknik Negeri Jakarta mengenai parfum refill menemukan beberapa masalah seperti kemasan mudah tergores, terlihat kusam, tutup kendur, sprayer bocor, serta kekurangan pada desain label. Kebutuhan konsumen tersebut kemudian diterjemahkan menjadi prioritas teknis menggunakan IPA, QFD, dan AHP.

Artinya, hasil skripsi pada kategori ini bisa cukup konkret. Penelitian dapat berujung pada rekomendasi ukuran, sistem refill, discovery set, rancangan botol, atau spesifikasi kemasan yang kemudian diuji kembali kepada konsumen.

4. Uji Penerimaan dan Keputusan Konsumen

  • Perbandingan Penerimaan Konsumen terhadap Parfum pada First Impression dan Setelah Pemakaian Beberapa Jam
  • Pengaruh Klaim Bahan Natural terhadap Penerimaan Sensoris dan Niat Beli Parfum
  • Pengaruh Kesempatan Mencoba Sampel Parfum terhadap Product Uncertainty dan Niat Beli Konsumen
  • Perbedaan Penerimaan Konsumen terhadap Aroma Parfum pada Blotter dan Setelah Aplikasi pada Kulit
  • Pengaruh Informasi Nama dan Deskripsi Aroma terhadap Penerimaan dan Niat Beli Parfum
  • Pengaruh Perceived Value Setelah Product Trial terhadap Niat Beli Parfum

Kalau kelompok sebelumnya lebih banyak membahas aroma yang disukai, kategori ini berfokus pada apa yang terjadi setelah konsumen benar-benar mencoba produk. Penelitiannya bisa melihat apakah kesan pertama bertahan setelah beberapa jam, apakah kesempatan mencoba sampel mengurangi keraguan, atau apakah informasi tertentu ikut memengaruhi penilaian.

Hal ini cukup relevan untuk parfum karena penilaian saat pertama mencium belum tentu sama dengan pengalaman setelah digunakan. Studi di International Journal of Cosmetic Science membandingkan sniff test dengan penggunaan parfum dalam waktu yang lebih panjang dan menemukan bahwa evaluasi dari kesan pertama bisa memberikan hasil yang berbeda dari pengalaman pemakaian.

Informasi yang menyertai produk juga bisa dijadikan variabel. Penelitian terhadap 112 peserta menemukan bahwa informasi mengenai penggunaan bahan natural memengaruhi evaluasi sensoris, penerimaan, dan purchase intention terhadap parfum yang diuji. Penelitian tersebut menggunakan tiga kategori fragrance, yaitu floral, citrus, dan woody.

Dari pendekatan ini, penelitian dapat membandingkan kondisi blind dengan kondisi yang dilengkapi deskripsi produk, konsumen yang mendapat sampel dengan yang hanya melihat informasi produk, atau penilaian saat pertama mencoba dengan penilaian setelah parfum dipakai lebih lama.

5. Marketing dan Penjualan Parfum

  • Pengaruh Content Marketing dan Influencer terhadap Minat Beli Parfum melalui Consumer Engagement di TikTok Shop
  • Pengaruh Viral Marketing dan Online Customer Review terhadap Keputusan Pembelian Parfum melalui Brand Trust di TikTok Shop
  • Pengaruh Live Shopping, Host Credibility, dan Product Quality terhadap Minat Beli Parfum di TikTok Shop
  • Pengaruh Flash Sale, Perceived Scarcity, dan Karakteristik Produk terhadap Impulsive Buying Parfum di TikTok

Kategori terakhir lebih cocok untuk mahasiswa manajemen, marketing, atau bidang lain yang tidak perlu membuat sampel parfum sendiri. Penelitian dapat menggunakan konsumen dari brand yang sudah beredar atau pengguna platform penjualan tertentu sebagai responden.

Objek parfum juga sudah digunakan dalam penelitian seputar TikTok Shop. Skripsi Universitas Pembangunan Jaya tahun 2025, misalnya, meneliti pengaruh content marketing dan influencer terhadap minat beli parfum dengan consumer engagement sebagai variabel intervening.

Meski begitu, topik seperti ini sebaiknya tidak dikembangkan hanya dengan mengganti nama brand. Jika penelitian terdahulu sudah membahas TikTok, influencer, atau brand trust, perubahan model perlu punya alasan yang jelas, misalnya karena format kontennya berbeda, proses keputusan konsumennya berbeda, atau ada karakter platform tertentu yang memang ingin diuji.

Jika Penelitian Membutuhkan Sampel Parfum

Tidak semua ide di atas membutuhkan produk yang dibuat khusus. Penelitian marketing, misalnya, bisa menggunakan produk yang sudah beredar. Sebaliknya, penelitian formulasi, blind scent test, pengembangan produk, atau uji penerimaan konsumen bisa membutuhkan sampel parfum dengan spesifikasi tertentu.

Kebutuhannya bisa berupa beberapa konsentrasi formula, sejumlah keluarga aroma, ukuran botol yang berbeda, atau beberapa konsep kemasan. Sebaiknya desain penelitian sudah ditentukan sebelum sampel dibuat agar setiap variasi memang diperlukan untuk menguji variabel penelitian.

PT Maklon Kosmetik Indonesia melayani pengembangan parfum mulai dari pembahasan konsep dan referensi aroma, penentuan konsentrasi dan ukuran, pembuatan sampel oleh tim R&D, desain label dan kemasan, sampai legalitas dan produksi. MKI juga menyebutkan bahwa sampel parfum dibuat setelah kebutuhan produk dikonsultasikan terlebih dahulu.

Jika sampel akan digunakan khusus untuk penelitian atau skripsi, jumlah, spesifikasi, dan kemungkinan pengerjaannya perlu dibicarakan terlebih dahulu dengan tim MKI. Kebutuhan penelitian bisa berbeda dari pengembangan produk komersial biasa.

Hasil penelitian yang kemudian ingin dikembangkan menjadi produk untuk dipasarkan juga dapat dilanjutkan ke pembahasan sampel produk, kemasan, legalitas, dan kebutuhan produksi.

Referensi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top